Selasa, 10 Desember 2013

Tafsir Kebebasan Berkeyakinan

By: Samsu Wijayanto
Tafsir Hadits
Pendahuluan
Sesuatu yang lebih berharga dari kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Begitu juga pada agama. Itu berarti yang lebih berharga dari agama adalah agama itu sendiri. Setiap agama menuntut pengorbanan dari pemeluk agamanya. Namun demikian, islam datang bertujuan untuk mempertahankan eksistensi agamanya, tapi juga mengakui eksistensi agama orang lain, dan memberinya hak-hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati para pemeluk-pemeluk agama lain.
Manusia adalah makhluk yang sangat peka dalam masalah agama. Itu terbukti ketika dalam suatu permasalahan ditarik ke ranah agama, maka kerusakan dan kehancuranlah yang akan muncul. Jadi perlu diingat, bahwa agama itu diibaratkan dengan aurat. Aurat yang tidak boleh diperlihatkan dan dipamerkan  kepada orang banyak, cukup diri sendiri dan Tuhanlah yang tahu.
Kesejahteraan Agama
Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin seakan-akan sudah hilang tak berbekas. Status “rahmatan lil ‘alamin” ini sudah tertera dalam kita suci “al-Qur’an” kita. Tapi, kenapa kebanyakan dari kita masih tidak berlaku rahmatan lil ‘alamin? Jika kita memang mengaku sebagai umat islam, seharusnya kita tunjukkan kerahmatan lil ‘alaminnan kita.
Pertanyaan diatas tidak hanya untuk kita tanyakan dan kita pikiran. Akan tetapi kita aplikasikan pada masyarakat sekitar kita. Sungguh sangat mengecewakan ketika kita mengaku sebagai umat islam, tapi dalam realita kita masih memberlakukan ketidakadilan. Ketidakadilan disini tidak hanya dalam ranah materi tapi juga immateri. Seperti halnya dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah: 256, berbunyi “Tiada paksaan untuk menganut agama (Islam)”; dan pada al-Qur’an Surat an-Nahl: 93, berbunyi “Seandainya Allah menghendaki,niscaya Dia (Allah) menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja”.
Dari surat al-Baqarah: 256 di atas sudah jelas, bahwa Allah di sini tidak memaksa dan memberikan kebebasan kepada hambanya untuk menganut agama apapun. Lalu jika kita mengekang seseorang untuk memilih agama yang mereka anut, maka kita termasuk orang yang sombong. Sombong akan agama yang sudah kita anut dan merasa paling benar. Padahal dari ayat di atas menunjukkan kemaha pemurahan Allah. Sungguh sikap yang tidak pantas dimiliki manusia jika kita berlaku sombong pada sesama kita. Kesombongan hanya milik Allah semata.
Kemudian dari firman Allah surat an-Nahl: 93 sudah menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk berlaku adil kepada sesama manusia yang berbeda dengan kita. Allah sengaja menurunkan banyak agama di dunia, karena karena itu Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih sendiri jalan yang dianggapnya baik, mengemukakan pendapatnya secara jelas dan bertanggung jawab. Di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa kebebasan berpendapat, termasuk kebebasan memilih agama, adalah hak yang dianugerahkan Allah kepada setiap insan. Dari ayat ini secara tidak langsung telah menanamkan benih tentang demokrasi.
Atas dasar itu juga al-Qur’an mengakui kenyataan tentang banyaknya jalan yang dapat ditempuh oleh umat manusia dan kita diperintahkan untuk bersikap adil dan sebagai sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (QS al-Baqarah: 148), bukan berlomba-lomba dalam mengejek atau mencela. Seperti yang difirmankan oleh Allah Jangan mencerca yang tidak menyembah Allah (penganut agama lain) ... (QS Al-An'am: 108).
Dari ayat-ayat di atas sudah jelas sekali bahwa Allah tidak mengajarkan kepada kita untuk memusuhi, mencerca atau menghina, apalagi membenci orang yang berbeda dengan kita. Allah maha pengasih dan penyayang, apakah kita sebagai hamba tidak ingin meniru sifat Allah yang selalu mengasihi dan menyayangi?
Sering kita lihat dan kita dengar ada saja pembicaraan yang tidak mengenakkan tentang agama. Kita mudah sekali mengina dan meremehkan agama lain. Inilah yang menimbulkan banyak sekali konflik tentang agama. Karena sesungguhnya banyak yang masih belum akan arti perbedaan. Kita lebih memilih mempertahankan keyakinan dengan menjatuhkan yang lain, tanpa memikirkan dampak dari semua itu.
Jika kita berbicara keMaha pengasihan dan penyayangan Allah, maka sudah jelas bisa kita lihat contohnya. Contoh saja, kita pasti tahu agama di luar Negara timur atau bisa dikatakan Negara barat (Eropa, India, Cina, Jepang dll). Mereka semua mayoritas beragama non-islam, Kristen, budha, hindu, dan agama tau keyakinan lain (saya tidak mengatakan kafir, karena Nabi tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan kepada kita untuk mengkafirkan sesama manusia meskipun berbeda keyakinan). Tapi, Allah tetap membiarkan mereka hidup dan bebas beragama dan menyembah tuhan mereka, Allah tidak menghina mereka dan tidak menurunkan petaka pada mereka. Lalu kenapa kebanyakan dari kita masih menjauhkan diri untuk bergaul dan bersosial dengan mereka?, apakah kita takut menjadi kafir, karena bergaul dengan mereka dan menghormati mereka?.
Jika pertanyaan-pertanyaan itu yang ditakutkan oleh kita. Maka ingatlah firman Allah “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. (QS al-Kafirun: 2). Ayat ini memerintahkan Nabi untuk tidak menyembah apa yang mereka sembah, Allah tidak memerintahkan untuk menjauhi dan melarang orang Islam membantu mereka dalam ranah sosial. Jadi sesama umat beragama kita bisa saling membantu dalam hal apapun kecuali masalah aqidah.
Bila kita merujuk pada perkataan seorang pluralis (Cak Nun). Dia mengibaratkan hidup beragama seperti warung. Hidup diibatkan warung nasi, agama diibaratkan dapurnya dan kita adalah penjualnya. Ketika ada seorang pembeli yang mau membeli makanan di warung kita, dan orang yang membeli itu berbeda keyakinan dengan kita. Kita harus melayaninya dengan ramah tamah. Orang itu pasti juga akan ramah dengan sikap kita yang ramah. Karena orang itu merasa diharga dan dihormati. Seorang pembeli tidak akan masuk ke dapur karena dapur hanya milik penjual. Ketika seorang pembeli mau masuk ke dapur maka tegurlah. Begitu juga kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan kita. Kita hormati dan kita hargai keberadaannya. Tak hanya itu kita juga ramah dan menghormatinya ketika mereka tersebut tidak masuk ke dalam wilayah yang intern dalam hidup kita (agama). Kita hargai juga orang itu ketika sedang beribadah kepada tuhannya. Karena mereka juga akan merasa menjadi seorang penjual yang akan melayani kita dan menghormati kita ketika kita sedang bermunajat kepada Tuhan kita.
Dengan demikian, agama tidak perlu dan tidak boleh dikeluarkan ketika masalah social. Antara agama dan social harus dipisahkan. Karena apabila agama masih ikut campur dalam urusan sosial, maka perdamaian dan kerukunan akan sulit terjalin. Masa iya, ketika kita mau menolong seseorang yang sedang tertimpa bencana atau kecelakaan harus ditanyakan dulu agamanya. Dan jika kita tahu dan berbeda dengan kita, apa kita masih rela dalam menolong orang tersebut. Saya tidak yakin, bahwa kita akan rela dan sepenuhnya menolong. Karena kita masih terbilang fanatik dengan agama atau keyakinan yang kita anut.
Kefanatikan inilah yang membuat manusia tidak tentram, damai dan tenang dalam bersosial. Kebanyakan orang sekarang ini takut dan tidak tenang dalam bergaul di Indonesia yang bhineka dan plural ini. Fanatik adalah suatu sifat dari fanatisme yang berarti suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Fanatisme dipandang sebagai penyebab menguatnya perilaku kelompok yang tidak jarang dapat menimbulkan perilaku agresi. Individu yang fanatik akan cenderung kurang memperhatikan kesadaran sehingga seringkali perilakunya kurang terkontrol dan tidak rasional.
Pengertian Fanatisme sendiri dapat disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang dalam : (a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu, (b) dalam berfikir dan memutuskan, (c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan (d) dalam merasa secara psikologis, seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat selain yang mereka yakini.
Kesimpulan
Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah islam yang ramah, penuh cinta kasih dan saling menolong, meskipun dengan non-muslim. Karena agama kita tidak mengajarkan kekerasan. Jadi barang siapa yang mengaku islam tapi dia masih keras dan belum berlapang dalam keberbedaan, terlebih lagi menghina umat yang berbeda dengannya. Maka islamnya perlu dipertanyakan.

Stop kekerasan dan kita ciptakan perdamaian untuk mengembalikan nama islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tunjukan bahwa kita islam yang ramah, bukan islam yang marah.

0 komentar:

Posting Komentar